Senin, 14 Juli 2014/ 16 Ramadhan 1435 H
Ini dia hari yang saya tunggu-tunggu,
setelah empat hari terkatung-katung tanpa adanya kegiatan yang jelas akhirnya
ada juga kegiatan yang “bermanfaat” yang saya lakukan. Hari inilah saya merasa
“useful” tidak hanya diam di rumah Pak Kades, merasa pekewuh dengan keluarga
Pak Kades dan warga sekitar.
Diawali pertemuan di balai desa
dengan kepala desa beserta jajaran perangkat desa pada pagi hari, saya begitu
bersemangat. Saya bersiap sedari jam 8 karena undangan jam 9. Jam setengah
Sembilan baru semua siap. Perjalanan ke Balai Desa sekitar 10-15 menit dengan
berjalan kaki. Rupanya tidak hanya mahasiswa yang memiliki kebiasaan “molor”.
Perangkat desa disini pun, entah mengapa, mungkin karena sedangpuasa, juga
datang amat terlambat, pukul 10.30 baru semua perangkat hadir. Acara dimulai.
Baik kelompok saya dan perangkat desa saling berkenalan, kemudian saya dan Mas
Aji, anggota kelompok KKN saya bertugas menyampaikan program2 yang akan
dijalankan. Ternyata berkomunikasi dengan masyarakat desa, seberapapun teori
yang sudah didapatkan, seberapapun usaha untuk mneyesuaikan dengan mereka,
tetap menjadi sebiah tantangan. Dalam hal ini, saya merasa gagal. Pertama, bahasa. Kemampuan berbahasa jawa halus
saya terbatas, dan itu memberikan kesan buruk walau mereka mencoba memaklumi
dan menghargai. Bagi saya, itu adalah sebuah penolakan. Kedua, persiapan yang kurang, terutama dalam
menyusun acara. Rupanya mereka menghendaki susunan acara yang runtut, walaupun
tidak dibawakn secara formal. Awalnya saya dan teman-teman mengira bahwa untuk
acara ini dibuat simple saja dan singkat. Di tengah, seorang perangkat
memprotes. Bagi saya, ini sebuah sentakan, dan awal yang buruk. Tapi tidak
mengapa, saya optimis keterjalinan dengan warga akan baik seiring dengan
berjalannya waktu.
Setelah peretmuan itu, next activity
adalah survey ke dusun Bengkal yang berjarak sekitar tiga kilometer dari balai
desa dengan rute jalan menaik dan kondisi jalan yang tidak begitu baik, lebih
epiknya lagi, kami jalan kaki!! Capek. Iya. Jauh. Banget!.
But, mungkin kata “mereka”, inilah
pengabdian!. Sekitar satu jam berjalan kaki, saya sampai di dusun Bengkal.
Dusun Bengkal (jalan ke pemukiman
masih jauh lhooooo)
Cari masjid, setelah itu ke rumah
yang memiliki usaha sriping singkong. Berjalan lagi, jauhnya tidak seberapa,
tapi naik! Ketemu rumahnya, saya dan teman masih dilemma karena kata penduduk
sekitar yang kami tuju adalah usaha perseorangan, bukan kelompok, padahal
target kelompok adalah usaha kelompok. Akhirnya kami putuskan untuk menemui kepala
dusun terlebih dahulu. Kami mendapatkan beberapa informasi dari pak kepala
dusun, nama dan nomer hp pemilik usaha. Selain itu, kami mendapat informasi
darinya bahwa pengusaha sriping, beberapa memang ada yang perseorangan (maksudnya
dikelola oleh hanya satu keluarga saja) namun ada juga yang menjalan kan usaha
secara perseorangan namun tergabung
dalam kelompok mitra. Nah yang tergabung dalam kelompok mitra inilah yang
menjadi target kami. Oke fix! Kami langusung menuju tempatnya!
Disana, kami melakukan observasi dan
wawancara. Kami bertanya tentang proses produksi, pemasaran, dan
kendala-kendala yang ada. Ini dia bagian terpenting. Mencocokkan survey
sebelumnya dengan kondisi riil dan menjadikannya pertimbangan dalam
merealisasikan program. Rupanya, beberapa data yang kami peroleh dari hasil
survey yang pertama tidak sepenuhnya sesuai dengan lapangan (lebih tepatnya
penfsiran kami yang kurang tepat akan penjelasan Pak Kades pada survey
pertama). Makanya ini menjadi bagian yang penting. Disini kami mendapatkan
informasi yang cukup menjadi cahaya dalam remang-remang kami. Kami menjadi
lebih mantap dalam menjalankan program.
Mas Deni, Deni Eko, saya, Bu Karsini
(pemilik usaha sriping singkong,) Neisha (duduk), Tika, Ricka, Wulan, Mas Aji.
Fotografer: Septi
Dalam melakukan survey dan wawancara,
meskipun dengan penduduk desa, public speaking kita diuji lho. Mulai dari
bahasa, kepercayaan diri, persiapan pertanyaan, koordinasi dengan teman satu
kelompok, pokonya segalanya harus dipersiapkan, ingat, sebiasa mungkin
tinggalkan kesan yang baik!
Nah, hari kelima ini baru saya
merasakan keseriusan KKN. Akan terasa kekompakan dan ketidak kompakan,
tergantung bagaimana pemimpin dan bagaimana koordianasi serta kerjasama dalam
tim. Penyamaan mindset dalam tim itu penting, sama halnya dengan kekompakan.
Pembagian tugas harus jelas. Tekankan tanggungjawab pada PJ masing-masing
program. Jangan sampai jumlah secara fisik ada 10 atau lebih tapi yang berperan
hanya satu atau dua. Sekali lagi, koordinasi, koordinasi, preparasi yang
matatng!! Jangan sampai ketemu target tapi masih bingung dengan apa yang akan
dilakukan!
Jadi pelajaran hari kelima:
1. Persiapan yang matang sebelum
mengadakan acara
2. Koordinasi pembagian tugas dengan tim
yang mantap
3. Triangulasi data yang diperoleh,
jangan percaya dengan hanya mendengar, harus juga dilihat dengan mata kepala
sendiri, agar kena sasaran dengan tepat!
4. Jaga hati, jaga kekompakan
5. Belajar bahasa jawa yang baik, (atau bahasa
daerah KKN yang ditempati)
6. Pelajari budaya daerah KKN
7. Jangan mudah mengeluh, siapkan fisik
yang kuat!










No Response to "Hari #5"
Posting Komentar