Kamis, 07 Agustus 2014 Tags: 0 komentar

Hari #5



Senin, 14 Juli 2014/ 16 Ramadhan 1435 H
Ini dia hari yang saya tunggu-tunggu, setelah empat hari terkatung-katung tanpa adanya kegiatan yang jelas akhirnya ada juga kegiatan yang “bermanfaat” yang saya lakukan. Hari inilah saya merasa “useful” tidak hanya diam di rumah Pak Kades, merasa pekewuh dengan keluarga Pak Kades dan warga sekitar.
Diawali pertemuan di balai desa dengan kepala desa beserta jajaran perangkat desa pada pagi hari, saya begitu bersemangat. Saya bersiap sedari jam 8 karena undangan jam 9. Jam setengah Sembilan baru semua siap. Perjalanan ke Balai Desa sekitar 10-15 menit dengan berjalan kaki. Rupanya tidak hanya mahasiswa yang memiliki kebiasaan “molor”. Perangkat desa disini pun, entah mengapa, mungkin karena sedangpuasa, juga datang amat terlambat, pukul 10.30 baru semua perangkat hadir. Acara dimulai. Baik kelompok saya dan perangkat desa saling berkenalan, kemudian saya dan Mas Aji, anggota kelompok KKN saya bertugas menyampaikan program2 yang akan dijalankan. Ternyata berkomunikasi dengan masyarakat desa, seberapapun teori yang sudah didapatkan, seberapapun usaha untuk mneyesuaikan dengan mereka, tetap menjadi sebiah tantangan. Dalam hal ini, saya merasa gagal. Pertama, bahasa. Kemampuan berbahasa jawa halus saya terbatas, dan itu memberikan kesan buruk walau mereka mencoba memaklumi dan menghargai. Bagi saya, itu adalah sebuah penolakan. Kedua, persiapan yang kurang, terutama dalam menyusun acara. Rupanya mereka menghendaki susunan acara yang runtut, walaupun tidak dibawakn secara formal. Awalnya saya dan teman-teman mengira bahwa untuk acara ini dibuat simple saja dan singkat. Di tengah, seorang perangkat memprotes. Bagi saya, ini sebuah sentakan, dan awal yang buruk. Tapi tidak mengapa, saya optimis keterjalinan dengan warga akan baik seiring dengan berjalannya waktu. 



Setelah peretmuan itu, next activity adalah survey ke dusun Bengkal yang berjarak sekitar tiga kilometer dari balai desa dengan rute jalan menaik dan kondisi jalan yang tidak begitu baik, lebih epiknya lagi, kami jalan kaki!! Capek. Iya. Jauh. Banget!. 



But, mungkin kata “mereka”, inilah pengabdian!. Sekitar satu jam berjalan kaki, saya sampai di dusun Bengkal. 


Dusun Bengkal (jalan ke pemukiman masih jauh lhooooo)



Cari masjid, setelah itu ke rumah yang memiliki usaha sriping singkong. Berjalan lagi, jauhnya tidak seberapa, tapi naik! Ketemu rumahnya, saya dan teman masih dilemma karena kata penduduk sekitar yang kami tuju adalah usaha perseorangan, bukan kelompok, padahal target kelompok adalah usaha kelompok. Akhirnya kami putuskan untuk menemui kepala dusun terlebih dahulu. Kami mendapatkan beberapa informasi dari pak kepala dusun, nama dan nomer hp pemilik usaha. Selain itu, kami mendapat informasi darinya bahwa pengusaha sriping, beberapa memang ada yang perseorangan (maksudnya dikelola oleh hanya satu keluarga saja) namun ada juga yang menjalan kan usaha secara perseorangan  namun tergabung dalam kelompok mitra. Nah yang tergabung dalam kelompok mitra inilah yang menjadi target kami. Oke fix! Kami langusung menuju tempatnya!




Disana, kami melakukan observasi dan wawancara. Kami bertanya tentang proses produksi, pemasaran, dan kendala-kendala yang ada. Ini dia bagian terpenting. Mencocokkan survey sebelumnya dengan kondisi riil dan menjadikannya pertimbangan dalam merealisasikan program. Rupanya, beberapa data yang kami peroleh dari hasil survey yang pertama tidak sepenuhnya sesuai dengan lapangan (lebih tepatnya penfsiran kami yang kurang tepat akan penjelasan Pak Kades pada survey pertama). Makanya ini menjadi bagian yang penting. Disini kami mendapatkan informasi yang cukup menjadi cahaya dalam remang-remang kami. Kami menjadi lebih mantap dalam menjalankan program.


Mas Deni, Deni Eko, saya, Bu Karsini (pemilik usaha sriping singkong,) Neisha (duduk), Tika, Ricka, Wulan, Mas Aji. Fotografer: Septi

Dalam melakukan survey dan wawancara, meskipun dengan penduduk desa, public speaking kita diuji lho. Mulai dari bahasa, kepercayaan diri, persiapan pertanyaan, koordinasi dengan teman satu kelompok, pokonya segalanya harus dipersiapkan, ingat, sebiasa mungkin tinggalkan kesan yang baik!
Nah, hari kelima ini baru saya merasakan keseriusan KKN. Akan terasa kekompakan dan ketidak kompakan, tergantung bagaimana pemimpin dan bagaimana koordianasi serta kerjasama dalam tim. Penyamaan mindset dalam tim itu penting, sama halnya dengan kekompakan. Pembagian tugas harus jelas. Tekankan tanggungjawab pada PJ masing-masing program. Jangan sampai jumlah secara fisik ada 10 atau lebih tapi yang berperan hanya satu atau dua. Sekali lagi, koordinasi, koordinasi, preparasi yang matatng!! Jangan sampai ketemu target tapi masih bingung dengan apa yang akan dilakukan!
Jadi pelajaran hari kelima:
1.      Persiapan yang matang sebelum mengadakan acara
2.      Koordinasi pembagian tugas dengan tim yang mantap
3.      Triangulasi data yang diperoleh, jangan percaya dengan hanya mendengar, harus juga dilihat dengan mata kepala sendiri, agar kena sasaran dengan tepat!
4.      Jaga hati, jaga kekompakan
5.      Belajar bahasa jawa yang baik, (atau bahasa daerah KKN yang ditempati)
6.      Pelajari budaya daerah KKN
7.      Jangan mudah mengeluh, siapkan fisik yang kuat!


No Response to "Hari #5"

Posting Komentar